SELAMAT DATANG DI AHLUL BAIT NABI SAW

AHLUL BAIT NABI SAW: Media Agama Dan Hati Umat Islam * Media Persatuan dan Kesatuan Sunni Dan Syiah


Menurut kesepakatan para perawi, Imam Husain tidak menikah dengan lebih dari lima orang wanita. Menurut Syekh Mufid, enam orang anak telah lahir dari para wanita ini (pendapat lain juga menulis tentang jumlah anak-anak Imam as).

Nama istri-istri Sayyidu Syuhada adalah:
1. Syahr Banu putri Yazdgard, raja Iran
Syahr Banu putri Yazdgard-raja terahir kerajaan Syasyani-menjadi tawanan Muslimin setelah penaklukan kota-kota di Iran. Kemudian dari Iran, ia dibawa ke Madinah untuk bermukim dalam pemerintahan Islam. Ia bebas di bawah perlindungan Amirul Mu'minin Ali as, dan kemudian diperistri oleh Husain bin Ali as, yang kemudian mendapat kebanggaan menjadi ibu Imam Sajjad as, dan sembilan Imam maksum berasal dari keturunannya.

Ali as berkata kepada Husain as: "Jagalah istrimu-Syahr Banu-dengan baik dan perlakukan dia dengan baik pula. Karena dia akan melahirkan dan memberimu seorang anak yang paling baik di muka bumi ini."

Ayahnya adalah Raja terahir kerajaan Syasyani yang runtuh setelah kemenangan Islam.[55] Silakan pelajari buku Allamah Askari dalam jilid satu "Naqsy-e Aimmah dar Ihyak-e din" (Peranan para Imam dalam Menghidupkan Agama) halaman 452 karena buki ini sangat menarik untuk dibaca.
Banyak nama yang diberikan kepada ibu Imam Sajjad, tetapi yang paling terkenal adalah Syahr Banu. Tentang sejarah kapan Syahr Banu dibawa dari Iran ke Madinan dan menjadi Istri Imam Husain as, ada tiga pendapat:
1. Sebagian sumber menyebutkan bahwa tertawannya Syahr Banu dan kepindahannya ke
Madinah terjadi pada masa kekhalifahan Umar.[56]
2. Ada yang mengatakan pada masa kekhalifahan Utsman.[57]
3. Dan sebagian lainnya meyakini terjadi pada masa kekhalifahan Amirul Mu'minin Ali
as.[58]

Dalil yang melemahkan pendapat pertama
1. Yazdgard tidak terbunuh setelah jatuhnya Madain. Melainkan setelah masa itu, ia masih meneruskan masa pemerintahannya selama bertahun-tahun. Pertama, ia melarikan diri ke Halawan, kemudian ke Qom, Kasyan, Esfahan, Kerman dan Maru. Dan dalam masa itu, keluarga dan sanak kerabatnya menyertainya.
Mengingat bahwa kemenangan daerah utara dan timur Iran bukan di bawah tanggung jawab khalifah kedua, maka putra-putranyapun menjadi tawanan bukan pada masa kekhalifahan Umar, melainkan peristiwa tersebut terjadi pada akhir-akhir kekhalifahan Utsman atau awal-awal masa kekhalifahan Ali as.
2. Khalifah kedua meninggal pada tahun 23 Hijriah,[59] sedangkan hari kelahiran Imam Sajjad sebagai putra pertama dan yang terahir bagi Syahr Banu pada tahun 36-38, maka sangat jauh kemungkinannya dalam waktu lima belas tahun Syahr Banu menjadi istri Husain bin Ali as dan tidak punya anak.

Hal itu menunjukkan bahwa pendapat yang benar harus dicari dalam kemungkinan kedua.[60]
Para penulis kontemporer yang menyelidiki secara luas dan terperinci tentang ibu Imam Sajjad as, seperti Dr Sayid Ja'far Syahidi dalam kitab "Zindegoni-e Ali bin Husain as" memuat semua cerita yang berhubungan dengan Syahr Banu. Dan dengan berpegang kepada banyak sumber, ia menyangkal dan menyimak banyak pendapat dan riwayat. Dan pada akhirnya ia mengatakan: "Sebaiknya saya tidak memperpanjang pembahasan sampai seperti ini, tetapi saya tidak bisa menerima apa yang telah ditulis oleh para pendahulu tanpa pembuktian dan penyelidikan....Anggapan yang mengatakan bahwa kisah Syahr Banu tidak berdasar adalah sama sekali tidak benar. Lalu siapakah ibu Imam Ali bin Husain as? Dan karena tidak ada orang lain selain Syahr Banu, maka sebutan tersebut sudah cukup sebagai sanad dan dalil. Pendapat semacam ini tidak memiliki nilai keilmuan.

Terlepas dari kesimpulan-kesimpulan sejarah ini, kami masih punya sanad dan sumber yang mengatakan bahwa sampai permulaan abad kedua Hijriah, Syahr Banu atau tuan putri dari Iran belum ada dalam keluarga Bani Hasyim."

Almarhum 'Imad Zadeh Ishfahani menulis: "Sayid Ja'far Syahidi dalam kitabnya- karena ia tidak bisa mendapatkan dan memecahkan masalah sampai ke akar-akarnya dan sedalam-dalamnya dan menjabarkan perbedaan sejarah dengan baik, maka ia mengingkarinya, sedangkan hal tersebut merupakan bukti sejarah dan tidak bisa diingkari."[61]

Hakikatnya adalah menurut sejarah, permulaan dan akhir cerita Syah Banu sepertinya tidak ada. Mungkin para penulis cerita yang berikutnya telah membumbuhi peristiwa-peristiwa semacam ini dengan hiasan-hiasan dongeng, sehingga menyebabkan para ahli sejarah kebingungan dan mereka mempercayai perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan. Dan kejadian ini dibawakan dan ditulis dalam kitab-kitab dengan manis dan panjang lebar.

Syekh Shaduq adalah salah seorang yang dibanggakan oleh masyarakat Iran dimana ia adalah salah seorang penulis terpercaya dan ternama. Karya-karyanya begitu mu'tabar bagi para ulama Islam selama ribuan tahun. Dalam kitab 'Uyunu Akhbar al Ridha, ia mengatakan: "Syahr Banu adalah ibu Imam Zainal Abidin as dan ia meninggal dalam keadaan nifas."

Ulama' Syi'ah mengakui dan menguatkan riwayat ini sebagai riwayat yang bisa dipercaya. Dimana Syahr Banu meninggal dunia setelah melahirkan Imam Sajad dan dalam keadaan nifas.
Yang menjadi kesalahan di sini adalah, Ibnu Syahr Asyub seorang ahli sejarah dan ahli hadis yang tinggi kedudukannya dalam Manaqib mengatakan: "Syahr Banu ada bersama Imam Husain di Karbala dan ia menjatuhkan dirinya ke dalam sungai Furat."[62]

Di zaman kita ini para penulis mengatakan: "Pada tahun enam puluh Hijriah Syahr Banu diutus ke Iran oleh Imam Husain as untuk membentuk sebuah pasukan dan menjatuhkan pemerintahan Mu'awiah. Cerita ini diangkat dari majalah-majalah humor oleh kitab dan majalah-majalah keilmuan, dan tak lama lagi ia akan menjadi salah satu sumber bagi para peneliti dan penyelidik."[63] 

Mungkin pandangan Dr Syahidi ini ditujukan kepada sebuah tulisan seperti "Kisah Syahr Banu" karya Rahim Zodeh, yang di akhir ceritanya ia memperkenalkan seorang Syahr Banu yang memasuki kata Rei dan sangat menginginkan berjumpa dengan ibunya (Moh Ofarin) sampai ia mendapat serangan musuh dan bersembunyi di sebuah gunung.

Di sana dia mendengar sebuah suara yang mengatakan: "Bahman, bawalah mereka masuk dan tutup pintunya." Nyanyian orang tersebut membuat Moh Ofarin sadar, dan ia menarik Syahr Banu ke dalam gua.....Tak lama kemudian dari dalam gua dan sekitar mulut gua tersebut tidak tampak tanda-tanda orang yang sebelum ini terlihat dan berada di sekitar tempat tersebut.(halaman 246).

Masalah mengenai pernikahan Imam Husain as dengan Syahr Banu putri Yazdgar dan kelahiran Imam Sajjad dari tuan putri dari Iran dan penghubung para imam setelah beliau kepada keluarga kesultanan dan kerajaan Iran adalah dalih yang diberikan kepada sekelompok penghayal dan dengki dimana mereka mengatakan: "Kecenderungan orang-orang Iran kepada keluarga Rasul adalah karena hubungan mereka (para imam) dengan keturunan raja-raja kerajaan Syasyani......"

Kisah kecintaan orang-orang Iran kepada para imam yang disebabkan karena keturunan mereka dihubungkan kepada keluarga Syasyani melalui Syahr Banu, dari pandangan sejarah, persis seperti kisah orang yang mengatakan: "Putra imam yang bernama Ya'qub di cabik-cabik serigala di atas menara." Yang lainnya mengatakan: "Bukan putra imam, tetapi Nabi, bukan Ya'qub, tetapi Yusuf, bukan di atas menara, tetapi di dasar sumur. Dasar permasalahannya bohong dan Yusuf tidak dicabik-cabik serigala."

Di sini juga asli cerita yang mengatakan bahwa Yazdgar memiliki seorang putri bernama Syahr Banu atau dengan sebutan yang lain dan mendapat kebanggaan sebagai istri Imam Husain dan ibu Imam Sajjad menurut bukti-bukti sejarah sangat mencurigakan. Para ahi sejarah zaman ini pada umumnya meragukan peristiwa ini. Dan mereka menganggap masalah ini tak berdasar. Mereka mengatakan: "Di antara ahli sejarah hanya Yakqubilah yang memiliki kata-kata yang dalam makna kalimatnya dimana ia mengatakan: "Ibu Ali bin Husain as adalah Harar, putri Yazdjard, dan Husain as mengganti namanya dengan Ghazalah."

Edward Brown sendiri salah seorang yang menganggap cerita di atas sebagai karangan belaka. Cristin Sin juga meragukan peristiwa tersebut. Sa'id Nafisi dalam bukunya 'Sejarah Rakyat Iran' menganggap kejadian itu merupakan sebuah dongeng.

Kalau kita anggap bahwa yang membuat-buat cerita ini adalah orang-orang Iran, maka sudah pasti pembuatannya pada dua ratus tahun setelah kejadian, yakni di jaman kemerdekaan Iran secara politik. Sementara itu muncul dan berkembangnya Syi'ah di Iran sudah sejak sekiar dua ratus tahun sebelum kemerdekaan politik Iran tersebut. Oleh karena itu bagaimana mungkin dinyatakan bahwa kecenderungan orang-orang Iran kepada Syi'ah disebabkan oleh cerita-cerita palsu di atas?
Yang kami katakan bahwa perkawinan Imam Husain as dengan putri Yazdgar merupakan hal yang diragukan adalah dilihat dari kacamata sejarah. Akan tetapi dilihat dari kaca mata hadis peristiwa itu dikuatkan olehnya, di antaranya yang diriwayatkan di dalam Ushul Kafi[64] yang mengatakan: "Putri-putri Yazdgar dibawa ke Madinah pada zaman pemerintahan Umar dan para wanita Madinah pada berdatangan untuk melihat mereka. Atas anjuran Imam Ali as, Umar membebaskan dia (Syahr Banu) untuk memilih orang yang disukainya, dan ia pun memilih Imam Husain bin Ali as."

Selain tidak seiramanya hadis ini dengan sejarah, ia juga memiliki kelemahan dari sisi sanad sehingga ia sulid diterima. Di dalam silsilah sanad-nya terdapat dua orang yang tidak bisa dipercaya. Yang pertama, bernama Ibrahim bin Ishaq Ahmar Nahawandi yang, menurut para ulama rijal dilihat dari sisi agama ia tidak baik yang menyebabkan riwatnya tidak bisa dipercaya. Yang kedua, bernama Umar bin Syimr yang dikenal sebagai pembohong dan pembuat hadis palsu.

Saya tidak tahu apakah riwayat-riwayat lain yang semacam dengan ini juga termasuk yang tidak bisa dipercaya atau tidak. Meneliti sekumpulan hadis-hadis yang membicarakan peristiwa di atas memerlukan kajian dan penelitian yang lebih banyak.[65]

Ringkasnya
Adanya para tawanan Iran pada zaman Umar diriwatkan dalam beberapa riwayat yang dapat dipercaya sebagaimana yang diriwatkan dalam buku: Kharaij Rawandi, Husain bin Sa'id dan 'Adad. Tetapi Syekh Shaduq dalam kitabnya, 'Uyunu al Akhbar meriwayatkan bahwa masuknya para tawanan ke Madinah pada masa 'Utsman,[66] dimana Allamah Majlisi lebih menguatkan hal ini sesuai dengan kaidah sejarah.[67]

Namun Muhammad bin Jarir Thabari sebagai ahli sejarah meriwayatkan bahwa: [68]
Para tawanan Iran dibawa ke Madinah dan Umar ingin menjual mereka (para tawanan wanita) dan menjadikan para tawanan lelakinya sebagai budak-budak orang Arab. Akan tetapi Imam Ali as melarangnya dan berkata: "Nabi berpesan, 'Hormatilah pemuka setiap kaum. Oleh karena itu, sangatlah tidak sesuai untuk menjadikan keluarga istana mereka sebagai budak-budak." Kemudian Imam Ali as membebaskan bagiannya yang berupa tawanan-tawanan itu dan langkah itu di ikuti oleh Bani Hasyim. Lalu Muhajirin dan Anshar memberikan bagiannya kepada Imam Ali as untuk dibebaskan. Sementara itu ada sebagian dari orang-orang Quraisy yang ingin memperistri para tawanan Iran tersebut. Kemudian Imam Ali as berkata: "Kalau begitu, biarkan mereka yang menentukan sendiri calon suami mereka."

Beberapa orang meminang Syahr Banu, akan tetapi dia diam saja lalu dengan tak disangka ia menunjuk kepada Imam Husain as dan berkata: "Kalau aku mesti memilih sendiri suamiku, maka kupilih pemuda ini." Kemudian Imam Husain as menikahinya. Ketika Imam Ali as menanyakan namanya ia berkata: "Syah Zanon (Ratu)." Imam Ali as berkata: "Kalau begitu nama aslimu Syahr Banu dan nama saudaramu Murworid (mutiara)." Ia menjawab dengan bahasa Parsi: "Ori" (ya).[69]

Dalam buku Kharaaij karya Rawandi diriwayatkan bahwa: Ketika orang-orang memberikan kebebasan memilih kepadanya, ia menunjuk kepada Imam Husain as. Lalu Imam Husain as berbincang dengannya menggunakan bahasa Parsi dan ketika beliau bertanya: "Siapa namamu?" Ia menjawab: "Jahon Syah (Ratu dunia)." Imam Husain as berkata: "Bukankah engkau ini Syahr Banu?" Ia menjawab: "Dia adalah saudariku." Imam berkata : "Ya, benar katamu."[70]

Tentang sebab pilihannya yang jatuh kepada Imam Husain as adalah sebuah mimpi yang pernah dilihatnya sebelum datangnya serangan tentara Islam ke Iran. Dalam mimpinya, ia melihat bahwa Nabi datang ke rumahnya. Dan di malam yang lain, ia melihat Fathimah bintu Nabi mendatanginya sambil menjelaskan Islam, dan menikahkannya dengan Imam Husain as.[71]

Sebenarnya tidak ada keraguan bahwa salah satu dari putri Yazdgar telah menikah dengan Imam Husain as. Hanya saja periwayatan namanya yang berbeda-beda. Syekh Mufid mengatakan Syah Zanon dan yang lainnya mengatakan Syahr Banu dan Jahon Banu. Sebagian mengatakan bahwa Syah Zanon putri dari Syirwieh Parwiz tapi yang masyhur ia putri dari Yazdgar. Oleh karena itu riwayat 'Uyunu al Akhbar lebih kuat dan sesuai dengan kaidah sejarah. Hal itu disebabkan oleh kenyataan sejarah bahwa Yazdgar terbunuh pada pemerintahan 'Utsman. Dan sudah tentu tidak dapat dipungkiri bahwa putri-putrinya menderita setelah ia terbunuh. Dan dimungkinkan nama yang ada pada periwayatan kitab Bashairu al Darajat itu sebenarnya adalah 'Utsman yang tertulis dengan nama Umar sebagaimana diyakini oleh Allamah Majlisi.[72]

Alhasil, Hermiz adalah kakek perempuan ini. Karena Yasdgar putra Syariyor putra Parwiz putra Hermiz putra Anu Syirwon. Yang dikatakan bahwa: "Celakalah Hermiz" maksudnya adalah kalau Parwiz tidak merobek surat Nabi saw dan ia masuk Islam maka putri-putrinya tidak akan ditawan.
Di dalam al-Kafi hadis ini juga diriwayatkan.[73] Dan yang sesuai dengan penelitian dan penyesuaian hadis dan sejarah adalah bahwa kelahiran Imam Sajjad as (Ali Zaina al-'Abidin) di masa kekhalifaan Imam Ali as dan ibu beliau adalah Syah Zanan, putri dari Yazdigard. Beliau (Syah Zanan) meninggal dalam nifas setelah kelahiran tersebut dan penyusuan Imam Ali as dilimpahkan kepada ibu susuan yang dijuluki dengan 'Ibu', dan ibu susuan inilah yang dinikahkan oleh Imam Husain as dengan pembantu lelakinya. Putri-putri Yazdigard yang menjadi tawanan dan dibawa ke Madinah sebanyak tiga orang dan Syahr Banu adalah salah satu dari mereka. Dan ketika mau "ditawarkan" (dengan perincian yang telah lalu), dari ketiga orang tersebut salah satunya menikah dengan Imam Hasan asdan yang kedua menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar dan Syah Zanan menikah dengan Imam Husain as. Hanya saja, ia tidak bersama Imam Husain as sewaktu di Karbala.

Sangat mungkin bahwa Syahr Banu yang berada di Karbala itu adalah janda Imam Hasan as atau Muhammad bin Abu Bakar (setelah keduanya meninggal) yang kemudian menikah dengan Imam Husain as. Imam Ali bin Abi Thalib as memberi nama baru kepada Syah Zanan dengan sebutan Maryam atau Fathimah, dan masyarakat menjulukinya dengan Sayyidah Nisa' (penghulu wanita), dan menjuluki Imam Ali Zainal-'Abidin dengan Ibnu al-Khairatain (anak dua kebaikan). ini sesuai dengan hadis Nabi yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah memiliki dua pilihan (kebaikan) dalam makhluk-Nya: pilihan-Nya (kebaikan-Nya) dari Arab adalah Quraisy dan dari Ajam adalah Persia."[74]

2. Laila, Ibu Hadrat Ali Akbar as.
Laila putri dari Marwah bin 'Urwah bin Mas'ud Tsaqafi. Ibu Laila adalah Maimunah binti Abu Sofyan, sedang ibu Maimunah anak dari Abu an-'Ash bin Muawiyah. Nama-nama yang disebutkan dalam sejarah sebagai istri Imam Husain as ini adalah Laila, Aminah dan Barrah.

Dalam kitab al-Irsyad, A'lamu al-Wara, Tarikh Thabari, Tarikh Ibnu Atsir dan Tarikh Ya'qubi, namanya dikatakan sebagai Laila. Ibnu Jauzi dalam kitabnya Tadzkiratu al-Khawash, dan Khurazmi dalam Maqtal, mengatakan bahwa dia bernama Aminah. Diriwayatkan bahwa: "Ali Akbar, terbunuh bersama ayahnya di Karbala. Dia tidak punya anak. Ibunya bernama Aminah binti Abu Marrah 'Urwah bin Mas'ud al-Tsaqafi, sedang nama ibu dari ibunya adalah binti Abi Sofyan bin Harb."[75]

Tapi Ibnu Syahr Asub dalam Manakib-nya menyebutnya sebagai Barrah binti 'Urwah. Namun demikian, yang masyhur adalah Laila dari keluarga besar dan terhormat dimana kakeknya 'Urwah termasuk salah satu dari dua pembesar Mekkah yang orang-orang Quraisy mengatakan:
"Mengapa Al-Qur'an ini tidak turun kepada lelaki dari dua kota besar ini."[76]

Nasab Laila dan Mukhtar bin Abi 'Ubaidah Tsaqafi sama-sama bertemu pada Mas'ud Tsaqafi, karena Laila putri dari Abu Marrah bin 'Urwah bin Mas'ud sementara Mukhtar anak dari Abu 'Ubaid bin Mas'ud. Dengan demikian, Abu Marrah paman dari Mukhtar.

Abu Marrah ayahnya Laila lahir pada zaman Nabi saw dan sempat bertemu dengan beliau. Karena pada waktu itu, ketika ayahnya ('Urwah) terbunuh, ia bersama saudaranya (Abu Malih) mengabarkan kepada Rasulullah saw dan setelah mereka masuk Islam, mereka kembali ke Thaif.

Tentang Laila, Harits bin Khalid Makhzumi melukiskan: "Mentari bersedih karna sinarnya telah disia-siakan. Ia (Laila) mempunyai ayah ibu yang merupakan orang tersetia dari Quraisy dalam menjaga perjanjian. Dan kalau ingin mengenali paman-pamannya maka kenalilah mereka melalui tajamnya panah-panah mereka."[77]

Abu al Faraj Eshfahani melantunkan syair untuk Ali bin Husain dalam bukunya Maqotil:

"Yakni anak Laila yang kasih dan santun
Yakni anak dari ibu yang utama nan dibanggakan
Yang tak mendahulukan dunia atas agamanya
Yang tak menjual benar dengan batil.

Kelahiran Ali Akbar dapat dijadikan pedoman dalam menentukan masa pernikahan Imam Husain dengan Laila. Ali Akbar lahir pada tanggal 11 Sya'ban tahun 33 H, dua tahun sebelum terbunuhnya 'Utsman-mengingat 'Utsman terbunuh pada tahun 35 H, sementara beliau berumur 27 tahun ketika syahid di Karbala dan Imam Sajjad as kala itu berumur 23 tahun, sesuai dengan kesepakatan ahli sejarah.[78]

Membicarakan anak-anak Imam Husain as memiliki keutamaan atau keuntungan tersendiri, namun demikian para pembesar sejarah telah melalaikan pembicaraan mengenai lebih dulunya perkawinan Syahr Banu dengan beliau. Sementara hal itu bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan kemuskilan-kemuskilan hari dan tahun yang saling berdekatan. Mungkin karena kelalaian itulah yang telah membuat para pembesar dan ahli hadis seperti Syeh Mufid dalam Irsyad-nya dan Thabarsi dalam 'A'lamu al Wara berkata: "Yang telah syahid di Karbala itu Ali Asghar (kecil), sementara Ali Akbar (besar) memiliki ibu yang merupakan wanita termulia dari kerajaan Syasyan.[79]

Muqarram saat menolak pernyataan ini menulis:
"Pendapat yang benar adalah bahwa yang syahid di Karbala itu adalah Ali-Besar kakak dari Imam Sajjad. Karena Iman Sajjad sendiri mengatakan kepada Ibnu Ziad: 'Aku mempunyai saudara yang lebih besar dari aku yang telah kalian bunuh ......'."

Tahun wafat, umur dan kehadiran ibu Laila ini di Karbala tidak dapat diketahui dengan pasti. Al Qommi, dalam bukunya Nafasu al Mahmum mengatakan: "Saya tidak dapat menemukan bukti sejarah bahwa beliau hadir di Karbala.

3. Rubab putri Umru`ul Qais bin 'Udda [80]
Kebanyakan penulis kitab Maqotil menulis kisah putri-putri Umrul al Qais yang telah dinikahkan dengan Ali as dan kedua putranya Hasan dan Husain as, seperti Qanduzi dalam Yanabu'u al Mawaddah, al marhum Qommi dalam Muntahal Amal, almarhum Samawi dalam Absharu al 'Ain dan almarhum Muhammad Arbab Qommi dalam Arba'in Husaini dan .........

Akan tetapi al marhum Muqarram dalam kitab Hadhrat-e Sukainah, halaman 235, kisah perkawinan putri-putri Umrul al Qais, menukil dari Maqotil Abu al Faraj Eshfahani dalam Syarah Hal Abdullah (anak bayi Imam Husain as), dimana penulis tidak menemukan kisah ini dalam Maqotil Abu al Faraj, melainkan kisah ini ada dalam kitab Aghani, jilid 8, halaman 361, terbitan Bairut.[81]

Gambaran peristiwa itu dinukil demikian:
"Suatu hari, pada masa kekhalifahan Umar, seorang laki-laki memasuki masjid, ia memberi salam kepadanya (Umar) dengan cara Islam, dan Umar menanyakan namanya. Dia menjawab: "Nama saya Umrul al Qais bin 'Adi Kalabi. Dan saya adalah pemeluk agama Nasrani. Umar menerangkan Islam kepadanya dan ia menerimanya. Kemudian ia memberikan sebuah bendera kepadanya supaya ia menjumpai Muslimin kabilah Qadha'ah di Syam (dan menyebarkan agama di sana). Setelah ia mengambil bendera tersebut, ia keluar dari masjid. Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain as mengikutinya dari belakang. Ali berkata kepadanya: "Saya adalah putra paman dan menantu Rasulullah. Dan dua pemuda ini adalah putra-putraku. Kami ingin memiliki hubungan denganmu. Oleh karena itu, kalau kamu memiliki beberapa putri, nikahkanlah dengan kami. Umrul al Qais menjawab: "Saya mempunyai tiga putri, dan saya akan menikahkan mereka dengan kalian. Masihah (Mihya' dalam sebagian kitab) akan kunikahkan denganmu, Salma dengan Hasan, dan Rubab dengan Husain."

Almarhum Muqarram menyoal cerita ini dengan lima dalil, dan dia mengatakan: Nilainya hanya sebatas dongeng. Salah satu dalilnya adalah lemahnya sanad yang telah diriwayatkan oleh Mujahid dan Muhammad bin Hisyam Saib Kalabi. Di antara mazhab yang ada keduanya belum bisa dipastikan.

Di dalil kelima ia mengatakan: "Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayah Rubab bernama Anif, yang tidak disebut-sebut dalam dongeng ini.[82]

Rubab putri Umrul al Qais sebagaimana yang dikatakan Abu al Faraj dan yang lainnya dan atau putri Anif menurut Ibnu Katsir, adalah istri Imam Husain as. Dan darinya lahirlah Sukainah dan Abdullah yang masih menyusu (Ali Ashghar). Walaupun cerita di atas, seluk beluk lamaran, penyebutan jumlah putri-putri, orang yang baru masuk Islam menjadi mubalig dimana ia dari kabilah Qadha'ah, telah mendukung kepalsuan peristiwa tersebut-di samping dalil-dalil yang telah diisyaratkan oleh penulis tersebut.

Almarhum Samawi mengatakan: "Umrul al Qais memiliki tiga putri yang dinikahkan dengan Amirul Mu'minin, Imam Hasan dan Imam Husan as di Madinah, dimana ceritanya sangat terkenal."
Mungkin pendapat almarhum Samawi dari cerita terkenalnya adalah kisah di atas yang lebih mirip dongeng daripada kisah nyata.

Rubab adalah wanita yang akhlaknya baik, tiada tandingan dalam keutamaan dan ketakwaannya. Ia bersama rombongan Imam Husain as pergi ke Karbala. Setelah keluarganya syahid, ia menjadi sandra sebagaimana yang lain. Di Madinah, siang-malam ia selalu menangis, dan sering duduk di bawah terik matahari (mengenang derita Imam Husain as ), lalu setahun setelah itu ia meninggal dunia.[83]

Adalah tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Rubab-setelah perjalanan kembali ke Madinah (dari Syam)-tinggal di Karbala[84] dimana ia siang-malam menangis. Karena Zainab Kubra, sebagai pengayom keluarga Imam Husain as tidak akan mungkin membiarkannya sendirian di Karbala yang sewaktu itu hanya merupakan padang pasir yang sangat panas dan tiada berpenghuni.[85]

Almarhum Syekh 'Abbas Qummi menukil cerita ini dari kitab al-Kamil, karya Ibnu Atsir dan dia tidak menolaknya. Dan di sana disebut juga menangisnya Fathimah binti Husain as selama setahun di kuburan Hasan at-Tsani.

Setelah syahidnya Imam Husain as, beberapa pembesar Quraisy meminang Rubab. Tapi dia selalu menolaknya dan berkata: "Setelah berkeluarga dengan Rasulullah saw, saya tidak akan berkeluarga dengan siapapun, dan setelah bersuamikan putra Fathimah as, saya tidak akan pernah bersuami lagi."[86]

Dari keterangan Ibnu Jauzi dapat diambil pengertian bahwa dia wafat karena kesedihan yang mendalam akibat kesyahidan Imam Husain as. Ia menulis: "Ia (Rubab) meninggal karena sedih setelah setahun dari syahidnya al-Husain."

Istri setia Imam Husain as di majlis Ibnu Ziad meminta agar kepala Aba Abdillah al Husain as diberikan kepadanya lalu ia memeluk dan mencium kepala suci tersebut sambil meratap:
"Oh Husainku, engkau telah berpisah denganku. Betapa sedih hatiku untuk selama-lamanya. Aku tidak akan pernah melupakan Husain. Ujung tombak-tombak musuh menyerbunya di Karbala dan telah membuatnya bermandikan pasir dan darah."

Yaqut Humawi menisbatkan dua bait ini dalam bukunya Mu'jamu al Buldan jilid 7, hal. 229 kepada 'Atikah binti Zaid bin Umar bin Nufail dimana menurutnya ia adalah istri Imam Husain as. Menurut dia, adalah tidak penting bila para sejarawan besar tidak menyebutkan hal ini (bahwa 'Atikah salah satu istri Imam Husain as).

Alangkah indahnya syair yang dilantunkan untuk 'Atikah dalam Qashidah Taiyyah sebagaimana berikut:
"Ya Husain, ya Husain, ya Husain sampai mati takkan kulupakan Husain. Ia (Rubab) di Baqi' tak meratapi dirinya karena kesetiaan kepada janjinya."

Anak-anak Rubab dari Imam Husain yang disebutkanl para ahli sejarah adalah Sukainah dan Abdullah.

Catatan: Dalam kitab-kitab Syiah dan Sunni telah dinukil syair-syair Imam Husain as yang memuji Rubab dan Sukainah.

Almarhum Muqarram mengkritisi penulisan sejarah yang telah meriwayatkan dari Sukainah (tentang pertengkaran antara Imam Hasan as dan Imam Husain as) sebagaimana yang ditulis oleh Abu al Faraj Eshfahani dalam bukunya Aghani. Riwayat seperti itu dari sisi sanad sangat lemah dan meragukan menurut para ulama ahli rijal. Dalam riwayat tersebut Sukainah berkata: "Pamanku (Imam Hasan as) mencacimaki ayahku berkenaan dengan ibuku Rubab. Tetapi ayahku dalam jawabannya berkata: 'Aku menyukai rumah yang ditinggali oleh Sukainah dan Rubab. Aku menyukai mereka dan paling banyak perbelanjaanku untuk mereka dan aku tidak peduli kepada cacian para pencaci'."[87]

Kesimpulan dari kritikannya.
Mereka tidak mengetahui kedudukan para imam yang ma'shum. Anggaplah bahwa Imam Hasan as telah mencerca Imam Husain, maka Imam Husain yang dikenal sebagai orang yang syahid, yang takwa dan adabnya begitu mulia, tidak mungkin akan membalas balik perkataan Imam zamannya (Imam Hasan as). Apalagi bersikeras dan mendebatnya. Apakah suatu kemuliaan bagi Imam Husain as untuk melantunkan syair-syair pujian untuk istri dan anaknya (sebagaimana dikatakan oleh sejarawan besar di atas)? Bukankah Imam Husain as ketika menjawab pertanyaan Jabir Anshari: "Apakan engkau akan berdamai (dengan pemerintahan Bani Umayah) sebagaimana kakakmu?", beliau mengatakan: "Sebagaimana kakakku telah berbuat sesuai dengan perintah Tuhan maka saya pun akan melakukan apa yang diperintah-Nya."

Ibnu Syahr Asyub meriwayatkan bahwa kalau Imam Husain as berhadapan dengan Imam Hasan as, maka ia tidak mengeluarkan kata-kata ketika membicarakan dan menyelesaikan masalah, sebagaimana Muhammad bin Hanafiah ketika berhadapan dengan Imam Husain as.[88]

Imam Shadiq as pernah berkata: "Imam Husain as untuk menghormati Imam Hasan as sama sekali tidak pernah lewat di depannya, dan tidak pernah mendahuluinya dalam berbicara."[89]

4. Ummu Ishaq
Ummu Ishaq putri Thalhah bin Abdullah atau Ubaidullah Taimiah adalah ibu dari Fathimah binti Husain as. para ulama berpendapat ia adalah salah seorang wanita yang dijanjikan surga. Pada awalnya wanita ini adalah istri Imam Hasan as dan beliau mempunyai beberapa anak darinya, yang karena kecintaannya kepada Ummu Ishaq, dan ia memiliki potensi dan akhlak yang baik, maka ia diamanatkan kepada Imam Husain as, supaya dijaga dan beliau tidak menginginkan dia keluar dari keluarga ahlul bait.

Imam Husain as mengamalkan wasiat Imam Hasan as, dan dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang diberi nama Fathimah yang kemudian dinikahkan dengan putra pamannya Hasan bin Hasan al Mujtaba as.[90] Almarhum Muhadits Qommi mengatakan: "Fathimah dalam ketakwaan, kesempurnaan, keutamaan dan kecantikan tidak ada yang menyamai dimana ia disebut dengan Hauru al 'Ain. Fathimah dari Hasan Mutsanna mendapatkan tiga anak yang masing-masing bernama Abdullah Mahdh, Ibrahim Umar dan Hasan Mutsallits.

Ibnu Jauzi dalam Tadzkiratu al Khawash menulis selain dari tiga putra ini ia mempunya seorang putri bernama Zainab.

5. Ummu Walad Qadha'iah
Wanita ini adalah ibu dari Ja'far bin Husain as dari kabilah (suku) Qadha'iah. Ja'far meninggal ketika Imam Husain as masih hidup (Irsyad, Syekh Mufid).

Tentang istri Imam Husain ini, orang lain tidak mensyarahi lebih dari apa yang Syekh Mufid nukilkan dalam Irsyad.

Almarhum Syekh Abbas Qommi menulis: Istri Imam Husain yang lain adalah seorang wanita yang tidak jelas namanya, dan ia ada bersama Imam Husain as di Karbala. Dan ia menjadi tawanan setelah kesyahidan Imam as dimana ia sedang hamil. Dan ketika ahlul bait dibawa ke Syam (dari kufah) dan setelah sampai di dekat Jabal (gunung) Jausyan, kandungannya keguguran.[91]

Kisah tentang Urinab istri Abdullah Salam dan tipu daya Mu'awiah dan Yazid untuk mendapatkan wanita cantik Arab ini dan pembelaan Imam Husain terhadapnya sudah terkenal. Dan setiap orang yang ingin mengetahui secara terperinci tentang peristiwa ini dan kedatangannya ke rumah Imam Husain as yang penuh dengan cinta, silakan Anda merujuk kitab "Zingony-e Imam Husain as", karya al Marhum Zainu al 'Abidin Rahnamo. Pembahasan pertama bukunya tentang cerita Urinab dengan tema sejarah lainnya-dengan kemasan dan istilah-istilah romantik dan bergaya cerita yang menarik.
Banyak pembahasan yang perlu dikupas tentang anak-anak Imam Husain as, tetapi karena nama-nama mereka selalu disebut-sebut dalam buku-buku maqtal al Husain as dan mimbar-mimbar, maka kami tidak membahasnya di sini.

Imam Sajjad as berkata:

من تزوج لله و لصلة الرحم توجه الله بتاج الملك

"Barangsiapa menikah karena Allah untuk menyambung tali silaturahmi, maka Allah seru sekalian alam akan mengangkatnya ke maqam yang tinggi." (Hadis Tarbiat, jilid.3, hal.123).

Referensi:
[55] Dalam kitab-kitab sejarah banyak terdapat penilaian yang bertentangan tentang penyebab runtuhnya silsilah kerajaan Syasyani. Penilaian-penilaian itu menyebutkan beberapa sebab di antaranya: Nasionalisme dan fanatik serta semangat kebangsaan yang agamis. Seseorang mengatakan: "Dari satu pihak anarki dalam pemerintahan di Iran sendiri, dan kekuatan Arab pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar dari pihak lain, telah meruntuhkan silsilah kerajaan Syasyani. (Pokok pembicaraannya adalah tentang kekuatan Arab, bukan kekuatan dan peperangan Islam dengan Iran)." Yang lainnya mengatakan: "Salah satu sebab kalahnya orang-orang Iran dengan tenaga dan kekuatan mereka yang begitu besar adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah dan keyakinan (agama) yang mereka anut. Rakyat Iran sudah hilang kesabaran, dan mereka telah memiliki kesiapan yang sempurna ....... Kalau mereka mendengar suara beduk keadilan dan kebenaran, maka mereka akan segera mendatanginya ......" Dan yang ketiga mengatakan: "Penyebab kekalahan pemerintahan fasad ini adalah Islam, bukan bangsa Iran."
[56] Usul Kafi, 2/396, Mutarjem, 2/491, Ihqaqul Haq, 12/54.
[57] Tarikh Thabari, 3/248, 'Diwan Akhbar al Ridha, Syekh Shaduq 2/128, Biharul Anwar 46/10.
[58] Kamil Mubarrad, Thabari 4/46, Irsyad, Syekh Mufid, I'lamul Wara, Kasyful Ghumah, 2/275 dan Wifayatul I'yan 2/43.
[59] Setelah kemenangan-kemenangan tahun 21 dan 22 (Muslim Arab dengan Iran) dan pada tahun 23 dini hari, hari Rabu terahir di bulan Dzulhijjah, Umar terbunuh di tangan Abu Lu`luk yang orang Iran (budaknya Mughirah).
[60] Jamal Niyoyisygaron, Zindegoni-e Imam Zainal Abidiin as, Musawi Muqarra, hal. 24 sampai 36.
[61] Zendegoni-e Imam Husain as, hal. 125.
[62] Perbuatan seperti ini tidak akan pernah dilakukan oleh istri Imam Husain as.
[63] Syahidi, sumber yang sama, hal. 26.
[64] Ushul Kafi, kitab al Hujjah, bab lahirnya Imam Ali bin Husain as, riwayat pertama.
[65] "Khadamat Mutaqabil Islam wa Iran", karya Syahid Muthahhari.
[66] Shaduq, 'Uyu Akhbaru al-Ridha, jilid 2, hal. 128.
[67] Biharu al-Anwar, jilid. 46, hal. 10.
[68] Akan tetapi Majlisi mengatakan bahwa Muhammad bin Jarir Thabari ini Syi 'ah, bukan penulis terkenal itu. Lihat Majlisi dalam kitab Biharu al-Anwar, jilid.46, hal.15.
[69] Dalailu al Imamah, hal. 81, karya Muhammad bin Jarir Thabari, cet. Najaf; Biharu al Anwar, jilid 46, hal. 15, 40 dan 330; Mubarrid dalam bukunya, Kamil, jilid. 2, hal. 93; dan Ibnu Syahr Asyub dalam bukunya al Manaqib, jilid 4.
[70] Majlisi, Biharu al-Anwar, jilid. 46, hal. 11 dan 15.
[71] Biharu al-Anwar jilid, 46, hal. 11.
[72] Biharu al Anwar, jilid, 46, hal. 11.
[73] Al Kafi, jilid, 1, hal. 466.
[74] Biharu al-Anwar, jilid, 46, hal. 8; Arba'in Husainiah oleh Qommi, hal. 130.
[75] Tadzkiratu al-Khawash, hal. 249, cet. Bairut, Muassasah Ahlulbait as.
[76] Dua lelaki yang dimaksud adalah, 'Urwah bin Mas'ud al-Tsaqafi dan Walid bin
Mughirah Makhzumi yang dijuluki Wahid. Dan yang dimaksud dua kota besar ialah Mekah dan Thaif
[77] Hadharat Ali Akbar, karya Marhum Muqarram, hal. 17.
[78] Muqarram, hal. 18, Tsarullah, DR. H. Syekh Husain 'Andalib, hal 215.
[79] Kita mengetahui Ali-besar ini dari perkataan Ali-kecil (Ali al Sajjad). Sebenarnya Syekh Mufid sendiri menulis bahwa ibu Imam al Sajjad adalah Syah Zanon dan ibu Ali-besar adalah Laila dengan perbedaan bahwa Imam al Sajjad sebagai Ali-besar dan Ali-kecil sebagai anak Laila.
[80] Dia bukan Imrau al Qais bin 'Abis, seorang penyair ternama. Sebenarnya ia adalah Rabab-dengan dibaca fathah pada huruf Ro'-, tetapi dalam pengucapan ia dikenal dengan Rubab -dengan dibaca dhommah pada huruf Ro'-nya.
[81] Kami sangat berterima kasih kepada rekan dan sahabat yang mulia Hujjatu al Islam wa al Muslimin Husain Phur karena kerjasamanya dalam menemukan alat ini.
[82] Al-Bidayah, jilid. 8, hal. 218.
[83] Al-Kamil fi al-Tarikh, Ibnu Atsir, jilid. 4, hal. 36.
[84] Ibid.
[85] Hadhrat Ali Akbar, Almarhum Muqarram, hal. 256.
[86] Tadzkiratu al-Khawash, hal. 238.
[87] Aghani, jilid. 14, hal. 157; Nasabu al Quraisy, karya Mas'ab Subairi, hal. 59, Thabari dalam al Muntahab.
[88] Manaqib, jilid. 2, hal. 143.
[89] Misykatu al-Anwar, Thabarsi, hal. 154.
[90] Penjelasan ringkasnya kami tulis dalam mukadimah buku Payom oqaron-e Karbala. Kebanyakan sejarah menyebutkan keagungannya, dan Syekh Thabarsi dalam Ihtijaj membawakan khotbahnya yang panjang dan berapi-api. Ia dan saudarinya Sukainah meninggal pada tahun 117 Hijriah di Madinah.
[91] Silakan merujuk Muntaha al Ummal, pasal 6, jilid pertama. Almarhum Qommi menukil kenangan dan keramat yang menarik dari Mukhsin bin Husain as yang gugur di tempat itu. Cetakan Islamiah, hal. 421. Almarhum Muhammad Arbab Qommi juga menyebutkan peristiwa ini dalam Arba'in al Husainiah, hadis kesebelas, hal. 136 dengan menukil dari Mu'jamu al Buldan Yaqut Humawi, jilid. 2, hal. 284, cetakan Beirut.

(alhassanain/ABNS)

0 komentar:

Sejarah

ABNS Fatwa - Fatwa

Pembahasan

 
AHLUL BAIT NABI SAW - INFO SEJARAH © 2013. All Rights Reserved. Powered by AHLUL BAIT NABI SAW
Top